Chapter III of Serat Niti Sastra; Ancient Wisdom for Modern Leaders; “Niti Sastra”.

Chapter III

  1. Lapangan gundul tanpa rumput, sungai kering tanpa air, ditinggalkan oleh hewan dan burung-burung yang biasa mencari makan dan minum. Persis seperti itu seorang pria yang tak bekerja, dan malas mencari rezeki, sudah pasti di tinggal pergi istri. Sebagaimana rakyat yang meninggalkan para pemimpin kejam tak berkesadaran, dan mencari rezeki di negeri orang di mana mereka dapat hidup aman.
  2. Harta benda dan anggota keluarga, semua tertinggal di dunia saat ajal tiba. Ditangisi sebentar dan di tinggal pergi, tak satupun menemani. Hanya segala perbuatanmu yang menemanimu saat itu. Sebab itu, beramallah selalu; itulah satu-satunya bekalmu.
  3. Masa muda maupun harta benda, tak satupun yang kekal dalam hidup ini. Pertemuan maupun perpisahan, tiada pula sesuatu diantaranya yang abadi. Kecerdasan berpikir dan kebodohan, rasa takut dan keberanian, semuanya hidup berdampingan dalam diri manusia sepanjang zaman.
  4. Unggul dalam persahabatan dengan awam adalah seorang rupawan; unggul dalam hubungan dengan pemerintahan adalah seorang bangsawan. Untuk tampil menawan, siapa saja dapat berbusana rapi; namun penawan sejati tiap hati adalah seorang bijak yang gampang mengampuni.
  5. Empat hal yang harus diperhatikan dalam diri seseorang adalah: latar belakang kebangsaan dan keluarganya, serta penampilan dan pekerjaannya. Empat hal yang harus kau lakukan untuk menguji kadar emas adalah: mengasahnya, menempanya, membakarnya serta membelahnya. Empat langkah yang harus diambil sebelum menghukum seseorang adalah: menasihatinya, mamarahinya, menjatuhkan denda, terakhir baru menghukumnya.
  6. Ada empat peristiwa dalam kehidupan manusia yang awalnya menyenangkan, namun akhirnya menyedihkan: meminjam namun tak dapat mengembalikan, memelihara anjing yang kemudian menjadi gila, berfoya-foya tanpa perhitungan, dan pergaulan bebas tanpa tanggung jawab.
  7. Mencari uang tidak mudah, harus belajar dan bersusah payah. Menyimpan pun sulit; banyak maling; banyak pula orang sirik. Terlebih lagi, sungguh sangat berat kehiupan orang kaya yang menjadi melarat. Sebab itu para budiman tidak pernah mengejar uang.
  8. Harta benda hanya bermanfaat bila digunakan untuk menolong yang melarat. Jangan lupa memberi sedekah, suapaya hartamu terjaga. Menimbun harta ibarat membendung arus yang besar dan deras. Apa yang ingin kau selamatkan tetap hanyut tanpa bekas.
  9. Ada madu, dan ada racun. Ambillah madu, tinggalkan racun. Ada emas dan ada kotoran. Bersihkan emas, buanglah kotoran. Tak ada salahnya kau berguru pada siapapun jua bila ia memiliki sesuatu yang berharga. Tak salah pula memperistri seorang perempuan cantik, berhati baik, walau berasal dari kalangan rendah.
  10. Sesejuk apapun rembulan dan cendana, lebih sejuk kata-kata orang bijak. Sepanas apapun api dan matahari lebih panas kata-kata seorang penjahat.
  11. Lalat menggemari luka terbuka, ia tak peduli bila dirinya menyebabkan derita. Burung gagak menyukai bangkai hewan, ia tak sadar banyak makanan yang lebih lezat. Seorang penjahat menyebabkan perselisihan. Ia senang melihat orang menderita karena ulahnya. Sebaliknya, seorang bijak selalu bersikap lemah-lembut; kebahagiaan orang lain menjadi tujuan utamanya.

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: