cerita saya tentang hari ini; april 28, thanks to “more about nothing”

Waw; pagi ini gag sengaja baca twit Om wimar witoelar. Dia lagi memuji buku biografinya yang di tulis sama chief eitor cosmopolitan magazine;Ms.Fira Basuki. Kemudian saya baca itu dia kasih link di Google reader. Saya Cuma baca pengantarnya aja sih, akhirnya saya tertarik untuk baca lebih dalam dan melihat tetntang apa sih yang menarik dari Om WW. Karena ketertarikan tentang nih orang saya kahirnya memutuskan untuk cari buku “more about nothing” di perpustakaan kota Malang, maklum ini adalah hari ke 37 pasca lulusnya saya, dimana saya bertemu rekan saya, mereka selalu bertanya to me; udah kerja atau belum? Jadi ngelanjutin sekolah dimana? Waw, amazing, ini adalah pertanyaan yang katanya orang western sana adalah pertanyaan yang impolite. Tapi saya tetap tegar menghadapi pertanyaan itu. Saya bingun juga sebenarnya; kalo cari kerjaan sih banyak itu lowongan di koran lokal, tapi saya gag apply, saya Cuma cari job yang saya senangi saja daripada nantinya saya udah kerja asal cari kerja dan ternyata malah menyusahkan kalo saya lolos di my admired company, sebenarnya pengen wirausaha juga; dan saat ini saya sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Mungkin terdengar klise gw jawab kaya gitu, tapi gimana ya? This is my live. And as long as i dont disturb or bother your live, its all okey though. Project bikin poster sudah selesai at 8.15, huaw, ini adalah project PKMK teman saya, satu tim dengan saya, tapi tumben-tumben juga saya begitu gag passionate while doing this project ( gara-gara gag ada kue nya kalli ya), tapi ya gga gitu-gitu amat sih, kalo di pikir udah 3 bulan juga gag berkecimpung di dunia per-design an, otak saya banyak tercurahkan untuk membaca buku-buku anand krishna; mungkin udah 30 an buku itu orang udah saya baca dan it keep inspiring me to learn more about his thoughts. And also akhirnya saya juga kecanduan buku & audio book Dalai Lama sama Deepak Chopra; yeah entah kenapa di usia 21 tahun saya ini ketertarikan saya sama hal-hak yang kata orang berbau spiritual (bukan agama – red) membuat saya terus berpikir dan merasakan ke-Agungan Tuhan yang telah menciptakan alam ini dengan segala Kenjelimetan alias complexity yang terkandung in it. On 8.30 saya memutuskan mandi dan siap-siap menuju Puskot untuk cari buku om wimar; maklum saat ini minat saya untuk membaca lagi on fire dan saya juga pengen bisa menulis dengan baik dan benar. Jadi saya begitu full of gutskalo pergi ke Puskot dimana banyak buku yang bagus-bagus plus saya memang belum punya uang untuk beli buku sendiri (semoga saya dapat membeli banyak buku yang menarik dan bermanfaat kelak; segera dengan kemampuan finansial saya sendiri. 9 am bertemu RhenyEK untuk memberikan file poster PKMK karena udah ditagih kaya debt kolektor; “ sorry ya nyeg telat ngasihkannya, aku tahu deadline nya on April 26; tapi apa daya Tuhan berkehendak lain jadi molor sampe 2 hari kemudian. Tapi, terus terang itu poster hasil pemikiranku selama 4 hari yang bener-bener melelahkan, di sela banyknya konsentrasi yang harus tak berikan untuk project pengembangan hypotalamus ku. Sampe di perpus at 9.10, langsung nyari di catalog center bukunya Om wW, ada dua; perspektif sama more about nothing, saya sempat cari yang perspektif, tapi gag nemu, soalnya penataan buku perpus yang katanya udah ada ISO 9000; 2001 itu gag bagus, jadi nemunya dalah yang “more about nothing”. Tapi saya juga secara gag sengaja nemu buku Om Anand yang “Mullah Nasrudin” and “total success”, Seperti biasa, kalo di puskot saya selalu milih tempat duduk paling pojok, deket AC; pertama alesannya biar gag di lihat orang-orang yang berseliweran kalo saya lagi baca buku yang penulisnya being sued by his students related to kasus penganiayaan dan sexual harassment (maklum pernah kemarin pas baca buku itu orang-orang pada melihat saya; bukunya injil maria Magdalena di campur sama buku Bhagavad Gita, gag match dan beda agama), ke dua saya bisa dapet fresh air kalo deket sama AC. Huah, saya habiskan buku itu dalam tempo 1 jam kurang dikit, ada kata-kata yang saya catat dan cukup inspiring, yaitu “tanpa romantika, tanpa hitam dan putih, tanpa optimism , there would be no colourful living”. Yeah a colourful living, dan satu lagi “ Trust is the basic for all relationship, where there is no trust there is no relationship. Trust… Saya jadi ingat, kemarin on Tuesday, around jam 11 an, saya melakukan percakapan by phone with Ilma, sudah lama sekali tak berbincang dengan teman baik saya ini, entah kenapa kami sudah berteman mulai tahun 2005 hingga sekarang, hampir lima tahun dan pada akhirnya kami menyadari bahwa selama bertahun-tahun – meskipun kami pernah saling menjalin hubungan, ternyata kami tidak bisa atau mungkin saya especially gag bisa berbincang atau berbagi cerita tentang kehidupan saya secara benar-benar open, yeah, sunggu aneh memang, harusnya teman yang sudah lima tahun saling berteman dan berbagi cerita ternyata masih saja belum bisa dengan plong atau freely menceritakan dengan orang terekatnya related to yang terjadi dengan hidupnya- itu adalah SAYA. Saya kemudian berkata “ kenapa ya, kita udah berteman begitu lama, sudah kayak saudara mungkin, we knew each other, tapi kadang aku gag bisa bercerita freely dan begitu open tentang apa yang terjadi pada ku selama ini?”, kemudian saya lanjutkan lagi, “katanya yang di teori itu, syarat orang bisa bercerita dengan leluasa adalah faktor kenyamanan- comfortability, dan itu mencapainya gag gampang? Sejak kapan ya tuh amenity mulai tergerus?” Si Ilma bilang, “udah bertahun tahun mungkin”, Iya, sungguh miris sekali sebenarnya, sekian lama kami berhubungan tapi rasa nyaman itu sudah hilang sejak lama, “lha terus, apa yang ketika itu membuat kita terus berhubungan baik ya, ketika semua pembicaraan hanya terkait masa lalu?” Saya gag tahu, nampaknya pertanyaan dan pernyataan saya begitu buruk, tapi memang inilah yang mungkin ketidaknyamanan, atau tidak adanya trust, atau malah ketakutan untuk berbagi cerita, But, thats was bagian dari hidup saya, yup, tentu saja ini adalah blog yang tidak di edit, dimana blog ini menunjukkan pemikiran saya yang morat marit, this is my emmotional diary. Sebuah cerita tentang pemikiran mlintat-mlintut yang menghinggapi lelaki berusia 21 tahun yang sedang dalam proses mengerti apa yang dirasakan, sehingga bisa berekspresi dengan maksimal tanpa hambatan sehingga kelak bisa menjadi dirinya sendiri tanpa bayang-bayang siapapun, Thanks to Om WW your book inspired me to start think about nothing, and i will make some note by the end of this post. Ciao.

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: