Monthly Archives: May 2010

Gambar Orang (Draw a Person Test)

HAH, mendadak dangdut jadi pengamat psikotest, yup, hal ini dikarenakan saya masih penasaran, gimana cara kerja nih tes, padahal temen saya yang duitnya banyak bilang kalo tes kaya gini gag penting, yang penting toh bisa ngehasilin duit. yeah, what ever deh, selagi waiting for my TPA test di UB, dan ternyata banyak orang nge click postingan saya, akhirnya seru juga jadi researcher tentang gimana nih tes punya aplikasi dalam true living. jadi kali ini topiknya adalah DRAW A MAN, teringat gambar gwa yang KWAARTTUN kemarin pas main tes di UBAYA, dan failed (HE9) menjadikan saya makin penasaran aja, so lets check it out, mari belajar bareng. source nih buku tar di tuliskan di belakang rangkaina tulisan ini. :), Ampel May 26 2010

Tes Grafis
Tehnik proyeksi yang dipakai tes grafis ini seringkali disebut sebagai tehnik ekspresif. Yang banyak dikenal dan banyak dipakai oleh para psikolog Indonesia adalah:

– Gambar Orang (Draw a Person Test)

– Gambar Pohon (Draw a tree Test)

– Tes Wartegg

Tes grafis disebut juga sebagai paper and pencil test karena hanya melibatkan 2 bahan tersebut dan dianggap sebagai tes yang sederhana dan murah. Sederhana karena tugas yang diberikan tidak rumit, mudah dimengerti subyek dan waktu pengerjaan tidak lama. Murah karena hanya melibatkan beberapa lembar kerja HVS 70gr ukuran A4 dan sebatang pinsil HB.

1. Gambar Orang (Draw a Person Test)
Ada beberapa versi dari Tes Gambar Orang, yaitu versi Goodenough yang biasanya dipakai untuk memperoleh nilai I.Q Versi ini kemudian dikembangkan Harris sehingga dikenal sebagai Draw a Person Tes versi Goodenough-Harris. Apabila pada versi Goodenough subyek hanya menggambar 1 figur saja maka pada versi Goodenough Harris, subyek diminta untuk menggambar 3 figur, yaitu figur laki, perempuan dan figur diri. Pada dua tes ini, figur yang digambar diberikan penilaian kuantitatif, misalnya kepala diperoleh nilai : 1; mata diberi nilai 1; ada pupil diberi nilai 1 dan
seterusnya sehingga diperoleh skor total. Skor total ini masih diolah lebih lanjut sehingga akhirnya memunculkan nilai IQ.
Berbeda dengan yang disebut diatas adalah versi Machover yang tidak memberikan penilaian kuantitatif tetapi kualitatif. Versi Machover ini dilandasi teori Psikoanalisa.Figur manusia yang digambar dianggap sebagai persepsi si penggambar tentang dirinya dan bayangan tubuhnya. Walaupun gambar-gambar yang dibuat subyek biasanya merupakan bayangan tubuh dan konsep dirinya, tetapi perubahan-perubahan dalam sikap dan suasana hati karena situasi juga dinyatakan disini. Seringkali dipertanyakan, mengapa figur manusia yang digambar dan bukan figur lain? Jawabannya adalah sebagai berikut, yaitu figur manusia adalah yang paling dikenal, yang paling dekat dengan dirinya sehingga ia dapat menggambar berdasarkan pengalaman-pengalamannya. Administrasi tes tidaklah sukar. Persyaratan untuk tes adalah 2 lembar kertas HVS 70 mgr ukuran A4 dan 1 pinsil HB, penghapus. Perhatikan agar tidak menggunakan alas karton atau buku. Alas untuk menggambar harus keras dan licin
Instruksi adalah : Gambarlah orang
Apabila subyek sudah selesai dengan gambarnya, maka diberikan kertas lain lalu diberi instruksi:
”Sekarang gambarlah figur dengan jenis kelamin lain dari yang tadi digambar”
Selama subyek mengerjakan tes, tester membuat observasi dan mencatat semua pernyataan verbal subyek, komentar yang diberikan, cara ia menggambar, figur dengan jenis kelamin mana yang digambar terlebih dahulu, berapa lama ia menggambar?

Setelah subyek selesai menggambar, tester melakukan asosiasi, yaitu meminta subyek untuk membuat cerita tentang figur yang digambarnya. Dalam tes kelompok, sukar membuat asosiasi karena waktu yang tersedia terbatas. Disamping itu hanya 1 figur saja yang digambar. Waktu pelaksanaan dalam tes kelompok juga dibatasi, yaitu 10 menit.
Prinsip interpretasi. Pada waktu kita menghadapi lembar kertas dengan hasil karya subyek berupa figur manusia, maka seolah-olah kita berhadapan langsung dengan si penggambarnya. Kita akan mendapat kesan pertama tentang gambar
tersebut. Dalam analisis selanjutnya, kita berpegang pada 3 hal yaitu : ruang ; gerak dan bentuk.
Ruang adalah : Posisi figur diatas kertas, apakah ditempatkan ditengah, kiri, kanan, atas atau bawah?
Gerak adalah : Bagaimana pinsil diatas kertas bergerak membentuk figur manusia. Ini mencakup tekanan pinsil, cara subyek membuat garis dan bayangan.
Bentuk adalah : Bagaimana proporsi figur, apa yang digambar, elaborasi, detail, distorsi, ada yang tidak digambar dan sebagainya. Disamping itu masih perlu dipertimbangkan fungsi anggota tubuh yang mendapat penekanan. Penekanan
dapat berupa tambahan shading, hapusan, berulangkali diperbaiki, dipertebal, garis pada bagian tertentu berbeda dengan garis secara keseluruhan, lebih mendetail dan sebagainya. Adanya anggota tubuh yang tidak digambarpun perlu ditertimbangkan. Penekanan dibagian tertentu dari figur manusia menunjukkan adanya konflik pada bagian tersebut dan karena itu perlu diketahui fungsi dari berbagai bagian/organ tubuh.
Kepala : Dianggap sebagai tempat kegiatan intelek dan fantasi dan diasosiasikan dengan kontrol impuls dan emosi, kebutuhan sosialisasi dan komunikasi. Maka dikatakan bahwa orang yang menarik diri, neurotik tidak memberi banyak perhatian pada kepala. Bagian-bagian kepala berfungsi sebagai sumber utama dari kepuasan dan ketidak puasan sensoris disamping sebagai alat komunikasi. Mata, telinga dan mulut merupakan organ yang diperlukan dalam berhubungan dengan lingkungan, sehingga perlakuan yang berlebihan menunjukkan kemungkinan kecemasan yang berhubungan dengan fungsi-fungsi organ-organ tersebut.
Leher : Leher merupakan penghubung antara kepala dan badan, merupakan penghubung, dalam bahasa psikoanalisis antara super-ego, ratio, dan id, impuls, dorongan. Pada umumnya bila leher mendapat penekanan maka menunjukkan kemungkinan pemikiran subyek mengenai kebutuhannya untuk mengontrol impuls-impuls yang dirasakannya mengancam.
Badan : Badan, khususnya ”trunk” diasosiasikan dengan dorongan dorongan dasar. Subyek biasanya cenderung menggambar figur yang mirip dengan keadaan tubuhnya sendiri. Anak seringkali menggambar ”trunk” secara sederhana, persegi-empat atau lonjong. Tidak adanya bagian tubuh yang penting (kecuali pada anak) menunjukkan kemungkinan gangguan psikologis yang serius.
Bahu : Perlakuan terhadap bahu dianggap sebagai pernyataan dari perasaan kebutuhan akan kekuatan fisik. Orang normal akan menggambar bahu dengan jelas sedangkan orang dengan rasa rendah diri karena fisik yang kurus dan kecil akan menggambar figur dengan sebelah bahu lebar. Tidak adanya bahu terkadang dikatakan sebagai kemungkinan skizofreni atau kondisi kerusakan otak.

Lengan dan tangan:
Kondisi lengan dan penempatannya, yaitu menjauh dari tubuh atau melekat pada tubuh menunjukkan hubungan subyek dengan lingkungannya. Maka lengan yang ditaruh dipunggung sehingga hanya sebagian saja yang tampak, menunjukkan keengganan subyek untuk berhubungan dengan orang. Tangan yang dimasukkan ke dalam saku, atau tangan yang tidak tampak, diassosiasikan dengan konflik dan perasaan-perasaan bersalah yang berhubungan dengan kegiatan tangan tersebut.

Tungkai kaki dan kaki:
Figur dengan perlakuan tidak biasa terhadap kaki atau tungkai kaki berhubungan dengan perasaan aman atau tidak aman. Tungkai kaki merupakan sarana bergerak dan perlakuan terhadap bagian ini mencerminkan perasaan seseorang mengenai mobilitas.

Test Warteg

Test Warteg

wah, pusing juga mikir tes yang kaya warung tegal gini, akhirnya browzing nemu nih artikel, hari ini keluh kesah saya adalah ; ngelepas tes COmmonwealth personal Banker School and Bentoel Sales Officer cuma semata mata buat Ujian Pertamina. waw.. pengorbanan yang menyakitkan, namun saya selama ini hanya puas dengan yang itu-itu saja, jadi apapun resiko nya di tes ini biar semua Gusti Allah Yang atur. lokasi di AMpel, belakan masjid sunan ampel… 🙂 , nih link originalnya.. http://ndaikuawan.student.umm.ac.id/2010/01/22/test-psikologi/

A.Intruksi Tes

Mengingat ini merupakan tes mengambar, maka kita ingatkan agar subyek mempergunakan pensil jenis HB dan tidak diperbolehkan menggunakan penghapus dan penggaris. Sebelum intruksi tes diberikan, terlebih dahulu, subyek diminta untuk mengisi identitasnya; nomor, nama, jenis kelamin, tanggal lahir, dan tanggal tes, selanjutnya disampaikan sbb:

“ pada lembaran kertas dihadapan saudara terdapat delapan (8) kotak yang dibatasi garis hitam tebal. Tugas saudara adalah menggambarkan pada setiap kotak, suatu gambar sesuka hati.karena kotaknya ada delapan, maka gambar saudara jumlahnya delapan pula. Tetapi ada satu syarat yang perlu saudara perhatikan, yaitu: saudara perhatikan pada setiap kotak terdapat tanda-tanda tertentu (katakana tanda-tanda apa saja yang ada di dalam kotak); dan tanda-tnda dalam kotak tersebut harus menjadi bagian dari gambar-gambar yang saudara buat pada kotak tersebut atau dengan kata lain, umpamanya ada seorang yang telah mulai menggambar tetapi tidak diselesaikan, maka saudara diminta untuk melanjutkan gambar tersebut. Karena gambarnya sesuka hati, tentukanlah sendiri dari kotak mana saudara akan mulai menggambar atau sesuai dengan yang saudara sukai.

Langkah selanjutnya, kalau sdr. Sudah selesai membuat gambar yang pertama pada kotak tertentu, berilah no.1 pada gambar tersebut, yaitu diatas atau dibawah kotak itu (diberikan contoh); jangan diberi nomor dalam kotak, nanti gambarnya kotor, dan nomor seterusnya..

Setelah selesai menggambar semiua kotak-kotak itu, tuliskanlah nama gambarnya dibalik lembaran tes tersebut secara berurutan dari nomor 1 s.d 8. kemudiaan dari kedelapan gambar tersebut saudara pilih:

  • gambar yang paling disukai di beri symbol (+).
  • Gambar yang paling tidak disukai diberi symbol (-)
  • Gambar yang paling mudah diberi symbol (M)
  • Gambar yang paling sukar diberi symbol (S)

Symbol-simbol tersebut diletakkan di samping nomor gambarnya (berikan contohnya).

(jika tidak ada pertanyaan, maka tes dapat dimulai secara serentak khususnya untuk ts klasikal)

B. Interpretasi

Ada lima (5) hal yang akan dinterpretasikan dalam tes wartegg (selanjuntya diistilahkan dengan WZT), yaitu :

  1. Adekuat dan Tidak Adekuat

Pengertian ini dikaitkan dengan aufforderungs characters (seperti bahasan sebelumnya) dari setiap rangsang dan juga menyangkut sifat dari setiap rangsang; feminine dan maskulin.

a). Rangsangan Feminin

yang termasuk pada kategori rangsang ini adalah : R1, R2, R7, dan R8. adapun adekuat dan tidak rangsang feminine ini ditentukan oleh:

  1. “ gambar yang halus”
  2. “ ada garis melengkung”
  3. “ sesuatu gambar yang hidup (suatu mahluk hidup)”

b). Rangsang Maskulin

yang termasuk pada kategori rangsang ini adalah: R3, R4, R5, dan R6.

Adapun adekuat dan tidaknya rangsang masksulin ini ditentukan oleh:

  1. “ garis yang tegas, lurus dan tidak berbelok-belok”.
  2. “ merupakan benda mati (bukan mahluk hidup)”
  1. Kepenuhan gambar

Gambar yang semakin penuh, makin baik, tetapi harus adekuat.

Kepenuhan gambar ini dapat berupa:

  1. penuh dan adekuat

menunjukkan : “ Vitalitas yang kuat” dan “ spontanitas”

  1. penuh disertai dengan tekanan yang kuat.

Menunjukkan: “ dorongan kuat” dan “ agresivitas”

  1. penuh dan terletak di tengah

menunjukkan: “ penyesuaian diri yang baiak” dan “ keseimbangan antara dinamika dan control”

  1. penuh dan ekstrim

menunjukkan: “ kecenderungan menguasai orang lain”.

Kontras dari gambar yang penuh adalah gambar yang kosong, dan memberikan makna (khusus untuk rangsangan feminin):

  • “ kurang ada keberanian”
  • “ penampilan yang kurang”
  • “ takut bergaul”
  • “ tidak ada daya kreasi”

Sedangkan makna terdapat gambar yang kosong pada umumnya adalah:

“ menutup diri terhadap kesan keindahan”

“ perhatian ditunjukkan kepada obyek tertentu”.

“ pengolahan rasionalisasi sehingga timbul abtraksi/penyederhanaan”

  1. Keurutan gambar (succesion)

Ada beberapa tipedalam melihat keurutan dari gambar yang dibuat oleh subyek, yaitu:

  1. tipe Linier/rigid (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8)

“ penghayatan/ tingkah laku yang terhambat “

“ pengendalian kuat “

“ cenderung kaku dalam bertingkah laku

  1. Tipe difus/ kabur (7, 5, 3, 1, 8, 6, 2, 4)

“ labil”

“tingkah laku dikendalikan oleh dorongan, jadi tidak terarah”

“ada hambatan dalam rasio”

“tidak ada keteraturan”

  1. tipe Linier/terbalik (8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1)

“bersikap oposisional”

“mempunyai kemauan sendiri”

“kurang dapat menyesuaikan dengan orang lain”

“pribadinya kurang ada differensiasi”

  1. tipe teratur/ normal (8, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7)

“pribadi yang stabil”

“ada control terhadap diri”

“ada kehangatan dalam prilakunya” Tipe kendor (2, 1, 8, 3, 6, 5, 4, 7)

“orangnya lincah”

“vital dan afektif, tapi masih dalam batas pengendalian diri”

  1. Nama gambar (content)

Apabila nama-nama gambar yang dituliskan pendek-pendek, misalnya “bunga”, “rumah”,dsb., maka ini menunjukkan hal yang “normal”.

Apabila panjangn-panjang, misalnya “dipegunungan pada waktu sore hari”, “seorang anak yang sedang bermain laying-layang”, dsb. Maka ini menunjukkan “emosionalitas” dan “kecenderungan fantasi yang besar”.

Sedangkan bila gambarnya abstrak/tidak memiliki bentuk yang jelas, misalnya “suasana perasaan” maka ini menunjukkan “adanya kecenderungan pada hal-hal yang tidak riil”.

  1. Cara menggambar (khusus untuk individual)

Ada dua ( 2) hal yang perlu diperhatikan disini, yaitu:

  1. apabila badannya yang bergerak-gerak (dalam pemeriksaan secara klinis ini perlu sekali diperhatikan), biasanya terdapat pada remaja (adolesence), banyak berhubungan dengan “kegelisahan diri” .
  2. apabila kertasnya yang dgerak-gerakkan dan disertai dengan adanya bayangan (shading), maka ini menunjukkan “tipe orang yang emosional”, “mau enakanya sendiri”.

C. Definisi dari Test Warteg

Test warteg disebut drawing completion test karena subyek harus melengkapi gambar-gambar yang telah tersedia.

Dasar teori dari tes ini adalah psikologi Gestalt yang dikembangkan oleh F. Kreinger dan F. Sander di University of Lepzing. Menurut psikolgi Gestalt buka saja obyek yang dipersepsikan, tetapi juga subyek yang mengalami harus dianggap sebagai “struktur” . struktur ini terbentuk dari sejumlah orientasi dan disposisi yang spesifik dan dinamis yang cenderung “memberi bentuk” dan mengorganisir yang alami.

Dari hasil pengolahan rangsang yang dibuat subyek dapat dilihat struktur dari subyek yang membuat.

Test ini kemudiaan di kembangkan oleh Wartegg seperti yang dapat dilihat pada “blank” yang dipakai sekarang. Stimulus sangat sedikit dan sebagiaan besar sangat kecil sehingga memungkinkan variasi respons yang cukup luas. Kemungkinan untuk mengkonstruksikan stimulus dalam suatu keseluruhan yang berarti menjadi lebih besar.

Dengan adanya kebebasan yang besar dalam menkonstruksikan stimulus maka semakin besar pula kemungkinan individu mengekspresikan dirinya. Materi test yang digunakan oleh wartegg juga bertujuaan untuk menghindarkan factor-faktor yang mengancam misalnya dari sifat test yang ambigius dan asing yang mungkin menimbulkan sikap ragu-ragu, cemas, dll.

Ukuran segi empat bertujuan untuk membantuk subyek memusatkan perhatian pada tempat yang terbatas. Pada stimulus dan ukuran ini memungkinkan semua gambar terlihat dalam satu halaman sehingga memudahkan perbandingan-perbandingan yang berhubungan dengan skor dan interpretasi hasil. Bingkai yang hitam dari segi empat juga bertujuaan untuk memusatkan perhatian subyek pada stimulus.

Wartegg membuat skema kepribadiaan yang terdiri dari :

    1. emotion : out going, seclusive.
    2. Imagination : combining, creative.
    3. Intellect : practical, speculative.
    4. Activity : Dynamic, controlled
  1. Emotion

Aspek-aspek dari emotion yaitu out going dan seclusive kira-kira berhubungan dengan yang sering disebut sebagai extraversion dan introversion.

Out going : individu berorientasi pada dunia luar, dan mudah berhubungan dengan orang lain. Mereka biasanya pengembira, easy going, dan bebas dari ketegangan, yang memudahkan penyesuaian dirinya tetapi juga cenderung membuat mereka secaa emosional agak datar. Perhatian dan minatnya sering berfluktuasi dan dangkal.

Seciusive : kurang berorientasi pada lingkungan diluar dirinya. Perhatiaanya lebih terarah pada dirinya sendiri, cenderung melihat sesuatu dari sudur pandangan dan sikap pribadi, sangat sensitive dan mudah menjadi terlalu sensitive atau depresi..

  1. Imagination

Combining : tipe ini mengambil materi langsung dari sekelilingnya dan diorganisir sesuai dengan standart yang obyektif serta menghasilkan bentuk yang sesuai dengan dunia luar. Imaginasi ini didasarkan pada realitas. Mungkin terdapat emosi yang terpendam yang dimanifestasikan melalui gambar yang menunjukkan adanya kecenderungan estetis meskipun konvensional/

Creative : ditandai oleh kurangnya hubungan dengan realitas. Individu lebih menyukai hal-hal yang abstrak atau symbol-simbol emosional, filosofi,a tau mistik. Kalau berlebihan imaginasinya ini akan merupakan hambatan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari.

  1. Intelect

Practical : individu dengan practical intellect bertindak terutama berdasarkan persepsi, observasi dan ditandai antara lain oleh cara berpikir yang teratur. Orientasinya tertuju pada fakta, hal-hal yang kongkrit dan penalaran yang induktif.

Speculative : mengutamakan prinsip-prinsip, penalaran, teori lebih daripada fakta, observasi dan hal yang praktikal.

  1. Activity

Dynamic: aktivitas yang dinamis mencakup semua bentuk dan tingkat dorongan energi yang dimiliki tingkat dorongan energi dari yang mobil sampai yang impulsive.individu dengan aktivitas yang dinamis menyukai akan hal-hal baru, percaya diri, antusias, berani, mungkin pula irritable. Mereka memiliki energi yang memungkinkan mereka melakukan bermacam-macam aktivitas dalam waktu yang sama.

Controlled : ditandai oleh konsistensi bertingkah laku dan kemampuan untuk mengambil keputusan secara tegas. Mereka biasanya membuat perencanaan sebelum bertindak. Perhatiaannya terpusat, mereka menyukai ketenangan dan keteraturan. Tingkah lakunya tampak konsisten an tenang. Kalau berlebihan mungkin berkembang menjadi fiksasi, terhambat daan kompulsif.

Tujuan utama pembuatan skema tersebut adalah untuk dijadikan pegangan atau dasar untuk mengerti kepribadiaan seseorang tetapi tidak berarti bahwa kepribadiaan merupakan suatu gabungan dari elemen-elemen yang terpisah karena sebetulnya kepribadiaan tidak dapat dibagi-bagi. Fungsi-dungsi seperti activity, intellect, dll hanya ditujukan untuk menunjukkan sejumlah elemen-elemen tngkah laku yang dapat diobservasi atau dengana perkataan lain sebagai konsep operasional.

Speech Writing II: Technical Guidelines

The following suggestions on format, grammar, and construction in speech writing will help speakers read the speech more effectively and listeners hear the speech more clearly:

• Never trust your speaker with an outline; write everything out, including all cues. If he or she is to hold up a plaque or point to a screen, for example, write those directions into the script, using parentheses.

• Write out dollar amounts (‘‘twelve million dollars,’’ not ‘‘12 million’’ or ‘‘12,000,000’’). Don’t make your speaker count zeros.

• Submit copy that is clean and double-spaced and has reasonable margins. Your speaker may want to make notes. You
may wish to use a large typeface. Some speakers like to have their scripts typed in all capital letters. There is, however, a danger that punctuation can get lost.

• Underline emphasized words.
• Repeat nouns instead of using pronouns (‘‘The school is in trouble’’; ‘‘The school needs your support’’) to remind listeners of the subject and bring their attention back to it should their minds wander.

• Write in parallel phrases and sentences: ‘‘Being here today gives me a chance to thank you, a chance to greet you, and a chance to bring you up to date’’; ‘‘This is a government of the people, by the people, for the people.’’
• Use simple words and simple declarative sentences. Short, crisp sentences are the most dramatic form of writing; forget big words and flowery language. Avoid tongue-twisters. Substitute common words for less used ones, for example, especially for particularly and stubbornness obstinacy.

• Beware of homophones—words that are pronounced alike but are different in meaning, such as pier and peer, sew and sow.
• Keep the subject and verb together. Good: ‘‘Having learned of the new schedule, John arrived at class on time.’’ Poor: ‘‘John, having learned of the new schedule, arrived at class on time.’’
• Don’t overload sentences with subordinate phrases and clauses. Clear, simple wording can transform lackluster speakers into attention getters.
• Be specific, use examples, don’t exaggerate, and don’t overdramatize. Avoid overstated rhetoric and stick to basic, clear expression.
• Beware of quotations. A common first impulse is to refer to Bartlett’s Familiar Quotations for a famous remark on the subject of your speech, but such quotes usually do not work. When a wellknown quote is appropriate and worth using, set it up correctly, like this: ‘‘As President Kennedy said in his inaugural address, and I quote, ‘Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country.’ End quote.’’ Indicating when you
are using a quotation is essential.
• Avoid plagiarism. Not fully attributing a quote to its original source is plagiarism. Plagiarism is one of the worst sins of any kind of writing and can lead to public embarrassment.Online search engines and antiplagiarism programs frequently used by colleges make plagiarism, whether premeditated or ‘‘accidental,’’ more likely than ever before to be discovered. Punishments range from embarrassment to career suicide. Don’t plagiarize.

Speech Writing I: Eleven Steps

Step 1: Interview the Speaker

Discuss the Audience.

Discuss Topics.

Discuss Length.

Step 2: Interview the Sponsor

Talk with the people sponsoring the event at which your speaker will appear. Learn every detail: What time of the day or night will the speech be given? Will there be other speeches, and if so, by whom and on what topics? Will any other activity be competing with the speech? What will the audience be doing during the speech: Standing or sitting? Eating dinner? Having drinks? Studying printed material? Listening to a translation? What will the audience have been doing before the speech, and what will the audience be doing after it? What is the context of the occasion? Is it a one-time affair or a regular event?

Step 3: Choose the Topic

Where Do You Get Ideas for a Speech? In developing ideas for speeches, it helps to know a little bit about a lot of things.
Do a lot of reading, and try to keep up with everything that’s happening. Taking a definitive stand on a current controversy or looking at an old or new issue from a unique, or very personal, point of view are ways to turn an ordinary speaking occasion into a memorable event for the audience and the speaker.

HowMany Ideas Can Fit Comfortably in a Speech? Like an essay, a speech should focus on one main idea or thesis that can be summarized in one or two sentences. The anecdotes, examples, statistics, and other details that make up the body of the address should illuminate and support the main theme and serve to make it understandable and memorable to the various constituencies in the audience.

When Do You Proceed with Research and Outlining? Your interview of the speaker and the event sponsor, as well as your general knowledge of current events and company and industry issues, should suggest a number of ideas to choose from. Present your two or three best ideas to the speaker, asking that he or she make the final choice. Never proceed to the outline stage without an explicit approval.

Step 4: Research and Outline

Good writing is based on thorough research and a careful outline, and speech writing is no exception.

Research. Check all references and resources available to you on the subject of your speech and any subjects closely related to it. Use a library or data bank to look up articles and books that relate to the topic. Your research is not finished until you completely understand the topic and have more information and background than you’ll be able to use.

Outline. There are numerous ways to structure a speech, regardless of its content and length. The elementary threepart format of essays—introduce what you’re going to say, say it, and then summarize what you’ve said—is a good general format for speeches. Here is a sample of a basic outline for a speech a company president might give to sales representatives at an annual sales meeting:
1. Welcoming remarks
• Cordial greetings
• Purpose of meeting
2. Report card on company growth
• Sales figures this year
• Sales figures compared with those of last year
• Goals for coming year
3. Role of sales reps in relation to employees in other departments
• Comparative remarks
• Achievements
• Goals for the future
4. Conclusion
• Challenges ahead
• How to meet them

Step 5: Make It Conversational, Keep It Simple, and Keep It Light

Speeches should be based on conversational language. The less formal, bloated, and academic the writing is, the better the speech will be. There are phrases and idioms that look like slang in print but are wonderful when said aloud. For example, colloquialisms— expressions that are characteristic of familiar, informal conversation—should be used in speeches.

When writing a speech, ask yourself how the speaker would
casually say this to a person sitting next to him or her on
a train. That should help you express the information more conversationally in the speech. Keep the material simple and light but not trite. Using humor and anecdotes helps keep a speech light, but beware of jokes. Most public speakers do not have the timing and delivery of standup comedians, and most are not natural storytellers either. But if humor can flow naturally out of the subject and is appropriate to all considerations, then it can be helpful.

Never resort to joke books. Humor must be organic to work. The classic, awful opening of a speech is when the speaker tells an irrelevant little joke and then says, ‘‘But seriously, folks. . .’’ Some executives resist using humor and anecdotes. They’ll say, ‘‘I don’t do humor; this is a serious speech.’’ But you don’t have to be pompous to be dignified. Being serious doesn’t mean being dull. Injecting personal feelings, maybe even self-deprecating humor, is a way to attract and hold the attention of the audience.

The Lead. There are many ways to grab the attention of listeners at the start of a speech. You don’t have to open with
an arresting question, a compelling anecdote, or an inflammatory statement that shocks or startles—but it’s not necessarily bad if you do. More often, good speeches start with a salutation, the speaker’s gracious acknowledgment of where he or she is, who is being addressed, and why.

For example, Paul C. Reilly (2003), chairman of the board and CEO of Korn/Ferry International, began a speech in China by saying:
Good afternoon and thank you for having me here today. It is always a pleasure to come to Beijing, and I am particularly pleased to be addressing this group of MBA students, because you truly represent the future of Chinese business leadership.

Bob Wright (2002b) of NBC spoke on ‘‘Restoring Trust: The Work of America,’’ he began:
Thanks, Charlie [Menges]. It’s a pleasure to be here to speak to the Legatus organization and its guests. But first, you can’t invite a television executive anywhere without having to watch a videotape. I brought a short one that relates to my theme today.

Conclusion. The end of a speech must be self-evident. The audience needs cues that it’s almost over and the speaker expects applause. There are numerous ways to signal the end of a speech. The speaker can say, ‘‘Before I leave you this evening, I’d like to review the main point. . . , ’’ or ‘‘To conclude, I’d like to summarize. . . ,’’ or ‘‘I know you’re eager to hear the other guest speakers—and so am I—but before I finish, I’d like to say. . .’’ The best speeches have a unifying theme throughout, and the end of a speech should have a natural tie to the beginning. The main points should be summarized at the end of the speech. Whenever possible, leave an audience with an optimistic feeling. Point to what can be achieved, what challenges lie ahead, and what rewards will ensue. Steve Jobs’s speech both signals the end and offers a sense of optimism:

Stewart [Brand] and his team put out several issues of The Whole Earth Catalogue, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-Seventies and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath were the words, ‘‘Stay hungry, stay foolish.’’It was their farewell message as they signed off. ‘‘Stay hungry, stay foolish.’’ And I have always wished that for myself, and now, as you graduate to begin anew, I wish that for you. Stay hungry, stay foolish [Jobs, 2005].

Step 6: Personalize the Content
It’s important to please the speaker for whom you’re writing, but that’s not the only opinion that counts. The speechwriter has to consider the audience. Will anybody really want to hear the speech? Will anybody truly care? If you have personalized the content of the speech to the audience, the answer will be yes.

Personalizing the speech and injecting emotion into it can be challenging, especially when you’re dealing with lots of plain facts. But analyzing how the information affects the people listening to it should help you personalize it. If you have a diversified audience to reach, break down how the subject affects each group that is listening.

Step 7: Confront Controversy
Whether to address controversial subjects related to a speaker will always have to be decided on a case-by-case basis. But if your speaker has been invited because of that issue, you can’t possibly avoid it. Confronting controversy can be a good way to clarify misinformation, offer background perhaps not covered in the press, or disarm a hostile audience. You do not want the audience thinking about one subject while your speaker addresses another, and you never want your speaker’s credibility compromised. If a contentious subject is likely to come up in a question-and-answer period later, it’s better to bring up the subject first and tackle it head-on.

Step 8: Test the Speech, and Encourage Rehearsal
As soon as you’ve finished the first draft of the speech, read it aloud. Notice where your tongue gets twisted or you run out of breath, and rewrite accordingly. Then read it to someone else and ask to be stopped wherever the meaning isn’t clear or confusion arises. Before you show the speaker your first draft, test the speech by writing a news story based on it. If you have trouble writing even a paragraph or two, it may suggest that the speech is not very interesting and needs more work. When the speaker is ready to review the speech, try to be there to listen. Find out what is not communicated clearly enough or where the speaker may feel uncomfortable. Also, make it your business to check any audiovisual, video, or other materials that will accompany the speech. Participate in technical rehearsals whenever possible.  A speaker using a teleprompter needs enough practice that the operator learns to follow the speaker’s pacing, and the speaker learns to trust that the operator will speed up and slow down as needed. The speaker—not the operator and not the machine—determines the pace.

Step 9: Draft Answers to Anticipated Questions
Help your speaker by anticipating questions and comments the speech is likely to raise. Some speeches are followed by a questionand- answer period with members of the press or the general audience, and the speaker should not be surprised or caught off guard by any of the questions. Supply related information if it is likely to be requested. When a speaker does not have specific information available on the spot, it is perfectly okay to have him or her say, ‘‘I don’t have that information at the moment, but I will be happy to check on it and get back to you.’’

Step 10: Attend the Speech
Whenever possible, the speechwriter should be present when the speech is given. Short of that, the writer should review a video or audio recording of the speech. There is a great deal to be learned by hearing the speech delivered; it can always be better the next time around. It is also helpful to hear people’s reactions directly following the speech. Speechwriters often comment that the most valuable reviews are heard in the restrooms afterward.

Step 11: Recycle the Speech
If the press is attending the speech, it is usually a good idea to have a copy of the speech available (sometimes it is distributed before the speech is given), along with a press release summarizing the most important points. Speeches can also be compelling content when posted on the company or organization Web site, and in fact, many organizations
post actual video or audio so that the visitor can experience the speech almost as the original audience did, complete with the speaker’s gestures and intonations. Consider also making speeches available online for downloading and Podcasting. The speech in written, video, or audio form can become part of the organization’s online archive for future reference by both the media and others.

In addition to finding their way into newspaper stories, speeches can be reprinted in internal publications, excerpted in trade and consumer magazine articles, taped for radio and television uses, and submitted to newsletters on current speeches, such as Vital Speeches of the Day, which publishes the full text of eight to ten speeches twice a month, and Speechwriter’s Newsletter.

SPEECH WRITING 5.1

From Your Pen to Their Lips

In an age dominated by digital communications, public speaking remains a powerful tool to inform or persuade a group of people. It is an effective way to gain recognition and show leadership in one’s company, community, or profession. In fact, public speeches often help set policy and act as a catalyst for action. Good speeches are provocative and memorable; they should also be easily understood and moving. The best speeches gain a  life well beyond their moment of delivery by influencing the audience, whether their purpose is to inspire, motivate, or encourage thought.
Each speech should fit the personality of the speaker, the occasion of the speech, and the composition of the audience. A speech has to give the audience confidence in the speaker. A speech allows the speaker to be accessible and make an emotional connection with the audience; it is a chance to be more than just a corporate officer or political figurehead.

Speech writing is a radical departure from other forms of writing. Many of the greatest literary treasures would make
terrible speeches if they were read aloud. They may read well, but they don’t hear well. In speech writing, the rules of written English must be replaced with those of conversational English. Writing for a listener is entirely different from writing for a reader, but a good writer can do both:

• Just as every story pitch is customized to fit the style, format, and focus of the media outlet you’re soliciting, so too is each speech uniquely tailored to suit the speaker, occasion, and audience. That means there is no precise formula for writing speeches. The key steps speechwriters can take to ensure a coherent, appropriate script are:

• Begin the project by interviewing the speaker for ideas and speaking style.
• Learn about the place of delivery and the composition of the audience.
• Focus on a single theme.
• Obtain the speaker’s approval on the theme and the outline before writing the speech.
• Write for the human voice and the vocal rhythms of the speaker.
• Think of pleasing the audience, not just the speaker.
• Keep in mind any controversy surrounding the speaker.
• Remember the importance of rehearsal, and participate in the teleprompter rehearsal.
• Draft answers to anticipated questions, another form of the Q&A for internal use only.
• Hear the speech delivered.
• Research ways to recycle the speech so that it reaches a wider audience than those in attendance.

Pidato SMI soal etika pejabat publik

waktu lihat Twitter, ngelihat update dari @Benhan, soal pidato SMI di Ritz Charlton, ternyata linknya mengarah ke Tempo.Magz, gag tahu memang belakangan SMI jadi bahan kajian saya juga,  semenjak nge follow om WW, pikiran saya jadi banyak, gag tersalurkan untuk masalah politik, hidup di kampus yang tidak memberi saya kesempatan luas untuk main di politik kampus Universitas Negeri Malang gara-gara saya gag ikut HMI, dan akhirnya selama 3 tahun hanya jadi pengamat yang gag di anggap, begitu melasnya saya. tapi ini menjadikan saya belajar, entah apa karena politik di UM begitu primordialis sehingga di sana sudah mirip kata republik cinta management, atau karena cuma di dominasi kekuatan agama tertentu kayak DEPAG, yang jelas saya ingin suatu saat bisa berkontribusi buat bangsa ini; pernah mengajukan aplikasi penerapan Good Governance di DMF FE melalui Uji materi UU yang kesannya membatasi orang berekspresi dan menjadikan UM dipenuhi dengan birokrat titipan OMEK, huh, sangat mengharukan, tapi daripada nostalgia masa lalu, saya baru aja baca pidato #SMI, so inspiring, thus i wanted to enshrine her speech into my Blog, i hope, someday i will devote my life for my country- Indonesia

Berikut transkip kuliah umum lengkap Sri Mulyani di acara kuliah umum itu.

Saya rasanya lebih berat berdiri di sini daripada waktu dipanggil Pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Itu yang membuat saya yang biasanya jarang sekali grogi sekarang menjadi grogi.

Saya diajari Pak Marsillam Simanjuntak (mantan Ketua UKP3R) untuk memanggil orang tanpa menyebut mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil ‘Marsilam’, selalu pakai ‘pak’, dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas…… (tepuk tangan).

Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahman Toleng dengan Rahman Toleng.

Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama, karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah, saya harus paling tidak saya harus membaca buku dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan.

Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus itu biasanya untuk kuliah kelas internasional atau spesial. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP-nya mahal. Dan itu pasti neolib itu (disambut tertawa). Karena itu saya revisi mungkin namanya kepada adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik.

Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini, saya sekaligus akan menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih menjadi pembantu (presiden), secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini.

Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu.

Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang ada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semua dimensinya untuk kepentingan publik.

Di situ letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya. Sebab, saya tidak belajar, seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga, atau kelompok.

Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di Filsafat UI untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun di bawah rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Itu merupakan modal awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat publik. Dimana setiap hari saya harus membuat kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.

Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Jadi kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat. Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita.

Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada saat Anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan ‘kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?’

Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang saya lalui, jadi ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama Anda masuk kantor, Anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal Anda dan staf Anda. Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.

Bayangkan, seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari Rp 400 triliun sampai sekarang di atas Rp 1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati Rp 3000 triliun lebih. Saya lihat banyak sekali, kalau bicara uang terus langsung….(ada air putih langsung datang diiringi ketawa hadirin).

Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia kelola menjadi seolah-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.

Dan di situlah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.

Barangkali itu istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata ‘bau’nya tidak seperti itu. Apalagi tingkahnya. Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product-nya, dia hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.

Nah, di dalam hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun eksternal.

Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. “Tolong beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri.” Biasanya mereka bingung dan berkata, “Tidak pernah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu.”

Kalau seorang menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance.
Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan.

Saya bisa cerita berhari-hari kepada Anda. Banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu.
Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya.

Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti.

Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang mengkhianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita.

Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik. Pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada kita.

Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura atau sungguh-sungguh. Mereka mengkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan, “Ini adalah panggung politik bu.”

Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai. Mereka sangat powerfull. Karena pengaruhnya, dan respectability, saya tidak tahu kepada anggota dewan mereka sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari…? Segala macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras.

Saya tadinya cukup naif mengatakan, “Oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar.” Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanyaan mereka.
Waktu sudah ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu. Katanya, “Ibu tidak usah dimasukkan ke hati. Hal seperti itu hanya satu episode drama saja.”

Itu kemudian menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? Siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat.

Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan split personality.

Waktu di Dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara konsisten.

Nah, oleh karena itu, di dalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat. Namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya double standrart, triple standart.

Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. Hari pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director, do dan don’t.

Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya.

Dan kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan counsel untuk kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.

Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai Anda tergelincir ya kebangetan aja Anda. Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman pengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu adalah urusan sekunder.

Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah backgroundnya pengusaha, meskipun yang bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa’ semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya… kalau dalam bahasa Inggris apa disebutnya? I drop my job atau apa..bingung itu.

Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang mengimport adalah perusahaannya dia. Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah penyakit yang terjadi di Zaman Orde Baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga.

Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak.
Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya aviliasi dengan apa yang kita diskusikan silakan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementerian keuangan. Kebetulan mereka adalah teman-teman saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, “Mba Ani jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu.”

Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada Anda bagaimana ternyata konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti. ‘Lihat saja Sri Mulyani, neolib.’

Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check terhadap CEO nya.

Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, provinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya. Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri keuangan, saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban personal.

Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana Anda mengatakan dan waktu saya mengatakan saya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.

Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi.

Pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti akan distated dengan struktur yang membentuk awalnya. Karena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal.

Dan itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadi bagian dari pemerintah, tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. Politik dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.

Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada yang gelo (menyesal), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama (ketawa dan tepuk tangan).

Karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangung jawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali.

Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, Anda mampu, Anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan Anda tidak mau (tepuk tangan). Namun pada saat yang sama Ada tidak selalu diapresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya).

Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini lah. Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya di atas jam 21.00 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti.

Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic.

Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat zaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau Anda out dan Anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.

Karena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan kita juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga Anda di dalam di sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan kesamaan.

Nah kalau kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti Anda yang duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah yang sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, Anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti Anda yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan.

Maka sebetulnya di tangan orang-orang seperti Anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.

Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena Anda juga bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan. “Jangan pernah putus asa mencintai republik.” Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.

Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman di sini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.

Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti Anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.

Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh Anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-olah menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh.

Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementerian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian Anda di sini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau Sri Mulyani tetap menjadi menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.

Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu orang, Sri Mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain.

Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti Pak Darmin, siapa yang bisa bilang atau marahin Pak Marsilam? Wong semua orang dimarahin duluan sama dia.
Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkan di DPR. Bagaimana mungkin itu kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani.

Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah proses politik. Saya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain pada era reformasi seorang distigma dengan Sri Mulyani identik dengan Century. Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan mengenai suatu penghakiman telah terjadi.

Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang didorong, yang dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita politik.

Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari Anda mengatakan apakah Sri Mulyani kalah, apakah Sri Mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara Anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil.

Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini (applause).
Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang.

Terimakasih. (standing applause)

RIEKA RAHADIANAA

http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2010/05/20/brk,20100520-249175,id.html

for #SMI : congratulations.

Tes Diskusi Kelompok (FGD)

nah, setelah yesterday bingung nyari further info terkait FGD, akhirnya saya nemu sedikit tambahan literatur untuk masalah ini, konten ini saye dapet dari http://kopidangdut.org/, this blog actually so interesting, especiallly for those of u who also concerns about politics and kehiupan sehari-hari yang di tulis dengan gaya yang khas. apalagi tagline theme nya gini “dari urusan serius seperti dangdut hingga perihal remeh sekadar politik jenaka”, so it would be cool if you also visit his site if you have great amount of pleasure times.

Perihal Tes Diskusi Kelompok (FGD)

FGD Test alias Focus Group Discussion atau lebih dikenal dengan (“Ujian Diskusi Kelompok (Selanjutnya disebut FGD”)adalah salah satu tahap ujian dalam proses seleksi penerimaan calon pegawai/karyawan pada sebuah perusahaan atau instansi yang sedang trend saat ini.

Apa sih FGD itu..?

FGD adalah sebuah pengkondisian situasi dimana para peserta FGD dikelompokkan dengan jumlah tertentu (antara 4-10 orang) dengan diberikan satu atau lebih pokok tema bahasan.

Bagaimana FGD berlangsung..?

Biasanya Panitia atau tim penguji akan memberikan informasi secukupnya baik lisan maupun tertulis yang berisi sebuah Cerita dengan suatu inti masalah dan pilihan-pilihan yang dapat dipilih oleh peserta.

Kemudian peserta diskusi diminta untuk memulai diskusi untuk memecahkan masalah tersebut bersama-sama dengan teman diskusi dalam satu kelompok. Perserta diharapkan dapat memberikan pendapat, pertanyaan, sanggahan dan solusi pemecahan masalah atas tema bahasan yang diberikan panitia.

Apa biasanya yang didiskusikan dalam sebuah FGD..?

Tema yang biasanya diberikan adalah: Berita terkini mengenai suatu isu, seperti isu politik, ekonomi atau pendidikan. Dimungkinkan juga mengenai situasi dengan perumpamaan para peserta merupakan korban suatu bencana dengan diberikan pilihan-pilihan solusi. Setiap peserta diharapkan dapat memberikan pendapat atas pilihannya dan dapat ditanggapi oleh peserta lain.

Apa yang dinilai dari FGD..?

FGD dimaksudkan untuk dapat menilai masing-masing peserta dalam menghadapi simulasi masalah. Bagaimana peserta dapat memebrikan pendapat, sangghana atau pertanyaan dan solusi yang diambil. Cara komunikasi yang efektif dan efisien sangat dibutuhkan dalam FGD ini.

Apakah dominasi dalam diskusi merupakan hal yang baik dan positif?

Sikap proaktif sangat dihargai namuntidak terkesan agresif. Penilain terbaik bilamana peserta dapat memimpin dan mengarahkan diskusi untuk mendapatkan solusi masalah dengan runut, sistematis dan efektif.

Apa yang harus dihindari dalam FGD..?

Sikap agresif, menjatuhkan pendapat peserta lain secara ekstrim, frontal dan tidak sopan. Sikap diam merupakan kartu mati dan sangat tidak diharapkan tim penilai/panitia.

Apa yang baik dan harus dilakukan…?

Sikap bicara yang sopan dan dengan arah pandang yang mantap pada setiap peserta lainnya. Gestur tubuh seperti gerak ikutan tangan atau mimic muka tidak berlebihan dan seperlunya. Hal terpenting tentu saja penguasaan materi yang menjadi tema pokok bahasan.

Berapa lama FGD biasanya berlangsung?

Biasanya tidak lebih dari 20 menit.

Apakah FGD dilaksanakan dengan Bahasa Indonesia?

Kemungkinan besar dilakukan dengan bahasa Indonesia, namun bagi perusahaan multinasional dan Instansi Kedinasan Bahasa Inggris akan menjadi bahasa diskusi.

Apa Yang perlu dipersiapkan dalam FGD..?

Rasa percaya diri. Penguasaan materi. Berpakaian rapid an sesuai anjuran panitia. Bersikap sopan dan tentu saja harus gosok gigi.

Apakah FGD membutuhkan persiapan lainnya..?

Tentu saja. Pastikan Anda tidak terlambat mengikuti ujian ini. Dan yang pasti, ndak boleh grogi apalagi berencana di tengah-tengah FGD untuk melakukan aksi bunuh diri.

that was little information related to FDG, hoping that this note could contribute to brighten our future career.

semoga Tuhan memberkati atas apa yang telah kita pelajari.

Syalom.